<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21746840</id><updated>2011-04-21T11:48:05.363-07:00</updated><title type='text'>Zuhaid el-Qudsy's Adventures Blog</title><subtitle type='html'>This is all about my adventures when I was in Middle East as a journalist of Indonesian Tempo Magazine.There are so many things I learn from my journeys. I hope it will be usefull for you all, guys, expecially for a new journalist. Please take a tour...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://elqudsy.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elqudsy.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>zuhaid el-qudsy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05254508842480425101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21746840.post-113913095906309337</id><published>2006-02-05T00:34:00.000-08:00</published><updated>2006-02-05T01:16:00.163-08:00</updated><title type='text'>Babad Baru Tanah Gaza</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000099;"&gt;Evakuasi pemukim Yahudi di Jalur Gaza telah dimulai pada 15 Agustus. Inilah babak baru dalam upaya penyelesaian konflik Palestina-Israel. Perdana Menteri Israel Ariel Sharon mendapat tentangan hebat di dalam negeri. Kontributor Tempo melaporkan dari Gush Katif dan Khan Younis, Jalur Gaza.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabra Ibrahim Jabra, penyair Palestina yang lahir di Bethlehem pada 1919, menghabiskan sebagian masa hidupnya di Irak. Di perantauan, ia menuliskan sajak-sajak yang menyalurkan rasa pedih karena tercerabut dari tanah airnya yang diduduki Israel sejak 1967. Dalam salah satu syairnya berjudul Di Gurun-gurun Pengasingan, Jabra menuliskan frase ini kepada Palestina:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, tanah kami di mana masa kanak kami.. Berlalu bagai mimpi.. Di bawah lindap kebun jeruk, di antara pohonan badam di lembah kami. Kenanglah kami kini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair ini seolah diratapkan oleh wanita-wanita penghuni Kfar Darom, salah satu permukiman Yahudi tertua di Jalur Gaza. ”Ke mana kami harus pergi? Di tanah ini anak-anak kami lahir dan tumbuh dewasa,” Nadia Bezalel, 53 tahun, menangis sejadi-jadinya. Keluarga Nadia bermukim di Kfar Darom—di wilayah tengah Gaza—selama 32 tahun terakhir. ”Di sinilah kami mencari penghidupan selama ini,” Nadia meratap pilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza yang kerontang bukanlah negeri berkelimpahan susu dan madu. Sulit menemukan kebun jeruk hijau royo-royo atau barisan pohon ara yang sarat oleh buah di sana. Tak mudah menemukan kerimbunan pohon badam di tepi jalan. Tapi Gaza telah menjadi ”tanah air” bagi 8.000 lebih pemukim Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebar dalam 21 permukiman, me-reka mendiami wilayah itu sepanjang 38 tahun terakhir. ”Tak sejengkal pun kami akan meninggalkan tempat ini. Tak akan pernah,” kontributor Tempo Ramiz Ass’af menyaksikan seorang pria tua menandak-nandak dengan putus asa di hadapan tentara yang ngotot masuk ke rumahnya di permukiman Neve Dekalim, di selatan Gaza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin pekan lalu pemerintah Israel memulai evakuasi—dengan sukarela maupun paksa. Tentara dan polisi berderap masuk ke Gaza. Pemerintah menyiagakan 55 ribu tentara dan polisi guna mengamankan boyongan akbar itu. Aparat keamanan dan para serdadu memecah pasukan mereka. Mulai dari permukiman Elei Sinai di ujung utara hingga Morag di titik selatan Jalur Gaza. Semuanya mendapat kunjungan para serdadu Ariel Sharon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buldoser melindasi rumah-rumah kosong. Aparat menggedor bangunan yang masih berpenghuni. Menyodorkan surat perintah dari kantor Perdana Menteri Israel (lihat esai foto ”Air Mata Membasahi Taurat”), mereka meminta penghuninya segera hengkang karena wi-layah itu akan dikembalikan kepada Palestina. Yang menolak ditelikung, lalu dibopong ke dalam bus-bus angkutan yang ambil posisi di dekat pintu-pintu ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika buldoser mulai merobohkan rumah-rumah di Kfar Darom, Nadia terkenang kembali saat ia tiba di permukiman tersebut bersama suaminya, Reuben Bezalel, suatu hari pada 1972. ”Anak saya yang terkecil lahir di sini,” ujarnya. Berdiri pada 1970, Kfar Darom adalah salah satu ”kampung Yahudi” tertua di Jalur Gaza. Sekitar 475 warga berdiam di sana. Termasuk Nadia dan Reuben, tiga anak mereka, serta Rebecca Nadab, ibu Nadia yang berumur 74 tahun. Rambutnya seputih perak. Kulit tangannya berkeriput. Tapi mata Rebecca belum redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarah mencorong dari matanya saat menatap tentara muncul di jenjang pintu rumahnya. Rebecca memekik: ”Terkutuklah Sharon. Terkutuklah dia di hadapan para leluhur kita karena dia menyesah kaumnya sendiri, yang sedarah dan sebangsa.” Seorang prajurit muda segera ditendang Rebecca dengan kakinya yang ringkih. Tiga serdadu lain yang lebih kekar mendekat, membopong nenek tua itu ke dalam bus. Kendaraan itu segera melaju ke utara Gaza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana, pemerintah Israel telah menegakkan ratusan caravilla—rumah-rumah semi permanen yang pembangunannya dikebut dalam dua bulan terakhir untuk menampung mereka yang ”bedol desa”. Ada pula yang dikirim ke permukiman baru di Tepi Barat. Namun, untuk menghindarkan amarah yang lebih meruap, pemerintah maupun pemda setempat telah mengatur agar boyongan massal itu tak menimbulkan ”gegar” yang terlampau berat. Mereka yang dikeluarkan dari Gaza diupayakan dapat mengisi caravilla yang tak begitu jauh di sana. Begitu pula di Samaria Utara, Tepi Barat. Bahkan para tetangga dan famili dapat memilih rumah secara berdampingan seperti di permukiman mereka dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mereka memulai hidup baru, pe-merintah Israel memberikan uang gan-ti rugi yang lumayan. Mingguan The Economist (edisi 18 Agustus 2005) melaporkan rata-rata warga mendapat satu caravilla—dilengkapi pendingin udara—serta uang tunai sebesar US$ 250 ribu-US$ 300 ribu (setara dengan Rp 2,85 miliar). Di Nitzan, sebuah desa di utara Gaza, telah berdiri 350 caravilla siap huni, dan 100 unit lain tengah dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya tak melirik sama sekali, kini para pemukim yang boyongan mulai berkompromi. Walau jauh dibandingkan dengan rumah-rumah yang mereka tinggalkan di permukiman, ”Permintaan terus bertambah,” ujar Ari Kildar, pemimpin proyek pembangunan di Nitzan, seperti yang dikutip kantor berita BBC. Tersedia pula bonus uang bagi mereka yang mau menempati Galilea dan Negev. Kedua wilayah ini banyak didiami warga keturunan Arab. Pemerintah ingin lebih banyak warga Yahudi yang membaur di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidato resmi penarikan mundur yang disiarkan televisi secara nasional pada 15 Agustus, Ariel Sharon berjanji: ”Kami akan melakukan segala upaya untuk menyokong Anda sekalian menata kembali hidup di tempat baru.” Dalam pidatonya itu, Perdana Menteri Israel juga menyampaikan alasan-alasan pokok mengapa langkah dramatis itu harus ia ambil. ”Kita tak dapat bertahan selamanya di Gaza. Sejuta lebih warga Palestina yang hidup di sana. Dan akan terus bertambah pada setiap generasi.” Sharon mencoba meredakan amarah para pemukim dengan mengingatkan, betapapun kerasnya pertikaian yang tim-bul karena keputusan evakuasi ini, ”Kita adalah satu dan bersaudara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato Sharon yang menyentuh dan ”rendah hati” itu tampaknya tak cuku-p berhasil menenangkan para pemukim. Di Morag, permukiman di selatan Gaza yang banyak dihuni ”ultra-kanan” religius, warga melawan mati-matian. Ada wanita yang meliliti diri dengan tali. Di lokasi lain, aparat polisi dan tentara di-sambut siraman cairan asam yang melepuhkan kulit. Seorang polisi mengaku kepada wartawan BBC, ”Belum pernah saya menghadapi medan seberat ini, harus bentrok dengan saudara-saudara sa-ya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentrokan yang lebih berbahaya sebe-tulnya bukan datang dari pemukim, melainkan dari para pengunjuk rasa—terutama kelompok militan muda Yahudi dari Tepi Barat. Mereka mengalir ke Gaza dari segala arah, menghadang di pintu-pintu masuk permukiman di wilayah selatan, terutama. Sekelompok pemuda menduduki dua sinagoga dan baku adu otot dengan aparat. Sejauh ini tak ada korban jiwa yang jatuh di Gaza. Evakuasi di Tepi Barat diwarnai penem-bakan empat orang Palestina oleh seorang militan Yahudi warga permukiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama penarikan mundur, Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas muncul dengan wajah berseri di bandara internasional Gaza. Dia merayakan peristiwa bersejarah itu bersama sejumlah warga. ”Pendudukan Israel telah berakhir hari ini. Jangan sampai kita memberi mereka satu pun alasan yang dapat menunda kepergian mereka.” Warga bertempik sorak gembira, menandak-nandak sembari menyampirkan bendera Palestina di tubuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamp pengungsi Palestina Khan Younis, kontributor Tempo Osama Sarawan membaur dengan warga yang berjoget diiringi musik Arab yang mengentak-entak serta lagu Insyalla yang dilantunkan Lathefa, seorang penyanyi asal Tunisia yang lagu-lagunya amat akrab di Khan Younis. Mereka bersorak, saling berpelukan, melupakan lingkungan hidup yang miskin, padat, dan kumuh. ”Youm istiqlal…youm istiqlal (Ini hari kemerdekaan…),” teriak Jamiil Asghar, 45 tahun, seorang tukang kredit. ”Malam nanti kita berpesta,” ujarnya disambut senyuman lebar warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beramai-ramai mereka menonton evakuasi di permukiman Neve Dekalim. Tempo meriung dengan beberapa laki-laki yang berkumpul di atas dak sebuah rumah. Mulut mereka mendesis, komat-kamit menyebut tasbih, tahmid, dan tahlil, ketika beberapa mobil warga Israel yang penuh barang-barang pindahan melintas di depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rasanya baru kemarin mereka mengoyak tubuh keluarga kita, pemimpin. Sekarang Allah telah memperlihatkan kekuatan-Nya, kebesaran-Nya. Subhanallah,” ucap Hamdi Abduh, si pemilik rumah, kepada Tempo. Air matanya meleleh. Dia teringat pada Osman Hamdi, anaknya yang terkena peluru tentara Israel ketika mereka mengepung kamp pengungsi Khan Younis beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keriangan di kamp pengungsi Pales-tina sungguh kontras dengan hawa mu-rung di Neve Dekalim. Aviv Gross, seorang pemukim di Neve Dekalim, me-ngatakan dia akan meninggalkan lokasi itu bersama keluarganya. ”Tak ada pilihan lain. Dengan uang kompensasi di tangan, saya akan berusaha menata kembali hidup kami, entah di Tepi Barat atau tempat lain,” ujarnya kepada Tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penarikan mundur dari Gaza adalah keputusan yang membuat Ariel Sharon merosot popularitasnya di dalam negeri. Dia bahkan dihujat oleh anggota kabinetnya sendiri. Salah satu menterinya, Benyamin Netanyahu, mundur pada dua pekan lalu. Tapi tekanan internasional dan pertikaian yang tak kunjung padam di Gaza membuat pemimpin Israel itu mengambil langkah yang, harus diakui, mengejutkan—mengingat Sharon pernah bersumpah berkali-kali, ”Kita tak akan bergeser seinci pun. Kita tak sudi duduk berunding, selama Palestina belum membereskan para terorisnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertikaian di Gaza belum reda. Bom-bom buruh diri belum sepenuhnya pupus. Perundingan dua pihak juga rendet tak keruan. Tapi Sharon memutuskan mengakhiri pendekatan militer yang ia emban selama ini (lihat kolom Daoud Kuttab, ”Setelah Israel Undur Diri”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari 90 persen tanah Palestina jatuh ke Israel. Maka, 1,2 juta orang Palestina melakukan nakba, mengungsi, ke Jalur Gaza dan Tepi Barat. Tapi Israel lagi-lagi mencaplok wilayah ini setelah kemenangan spektakulernya melawan negara-negara Arab dalam Perang Enam Hari pada 1967. Sejak itu, pemukim Yahudi berbondong-bondong mengisi Gaza dan Tepi Barat. Di tanah kerontang itu warga Yahudi berhasil membangun hidup yang makmur—sembari si Palestina menjadi tetangga miskin yang sebagian bekerja menjadi orang upahan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit hati mulai tumbuh. Para pejuang garis keras muncul. Bentrokan berdarah pecah selama tiga dekade terakhir. Di Gaza, lahirlah Intifadah yang membikin Israel gemetar karena anak-anak muda Palestina dengan enteng menyerahkan nyawa untuk ”mengusir penjajah dari tanah kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza menjadi sentrum pertikaian panjang kedua jiran. Sampai Pak Tua Sharon menyerahkan kembali ”tanah sengketa” itu pada pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini hari kemerdekaan kita,” pekik Jamiil Asgar, warga Palestina di kamp Younis. Di Yerusalem, Ariel Sharon menatap televisi melihat anak-negerinya ditelikung polisi. Dia menyerah, n-amun masih berusaha gagah ke arah Palestina. Sharon menegaskan, dunia kini menantikan reaksi Palestina; damai atau teror yang akan mereka ulurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak Israel, kata Sharon: ”Kami akan siap sedia. Ada ranting-ranting zaitun. Ada juga gemuruh tembakan yang paling mematikan.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21746840-113913095906309337?l=elqudsy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elqudsy.blogspot.com/feeds/113913095906309337/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21746840&amp;postID=113913095906309337' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113913095906309337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113913095906309337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elqudsy.blogspot.com/2006/02/babad-baru-tanah-gaza.html' title='Babad Baru Tanah Gaza'/><author><name>zuhaid el-qudsy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05254508842480425101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21746840.post-113912696963377202</id><published>2006-02-04T23:43:00.000-08:00</published><updated>2006-02-05T00:09:29.646-08:00</updated><title type='text'>Sebuah Wajah Teduh</title><content type='html'>&lt;span style="color:#333399;"&gt;Dahulu dianggap sebagai kelompok yang keras, kini mereka adalah kelompok Islam yang moderat. Itulah potret Ikhwanul Muslimin, kelompok sosial terbesar di Mesir. Organisasi ini telah memilih jalan parlemen, menanggalkan jalan kekerasan dalam memperjuangkan Islam. Sementara dahulu mereka menyokong Taliban, apakah mereka juga akan mendukung Taliban jika Kabul diserang AS ? Sebuah laporan dari Kairo.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;"Wahai Ikhwanul Muslimin!&lt;br /&gt;.... dunia telah menyaksikan berbagai peristiwa dan keadaan yang memprihatinkan. Belakangan, gudang mesiu meledak dan bumi disulut api peperangan, padahal manusia menyangka mereka telah tinggal di bumi yang aman tenteram…." (Hasan al-Banna dalam Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tewas 52 tahun silam karena dibunuh orang-orang tak berwajah, Hasan al-Banna tetap masih hidup. Ia adalah lambang gerakan perlawanan Mesir melawan kolonialisme Inggris, tapi dia adalah seorang pendiri Ikhwanul Muslimin yang menentang kekerasan terorisme. Pekan lalu, Makmoon Hudaiby, juru bicara resmi Ikhwanul Muslimin, mengatakan serangan bunuh diri pembajak menabrakkan pesawat Boeing ke World Trade Center itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. "Itu bertentangan dengan seluruh nilai kemanusiaan dan Islam. Tapi bila Amerika membalas dengan meluluh-lantakkan Kabul, itu adalah juga teror," kata Hudaiby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran resmi Ikhwanul Muslimin, Afaq el-Arabbiya, mengingatkan bahwa organisasi-organisasi Islam tentu tidak akan berpangku tangan seandainya AS membalas dengan sewenang-wenang. Hingga kini, kalangan pers Barat masih saja salah tanggap atas kehadiran kelompok Ikhwanul Muslimin. Didirikan pada Maret 1928 oleh Hasan al-Banna beserta keenam sahabatnya, kelompok ini semula didirikan untuk menjadikan Quran dan Hadis sebagai ideologi umat Islam. Belakangan, kelompok ini pun menjadi lawan tangguh bagi kolonial Inggris (baca: Jalan Berduri Ikhwan Al Muslimun). Maka, sejak itu pihak Barat selalu mendapatkan kesan bahwa kelompok ini adalah kelompok radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sejak zaman Anwar Sadat terjadi perbedaan prinsipil antara Ikhwanul Muslimin dan kelompok militan Mesir lainnya seperti Jihad Islami, Jamaah Islamiyah, Tafkir Wa al-Hijra, dan Al Najun Min al-Nar. Ikhwan memilih jalur pendidikan dan dakwah, sedangkan kaum oposisi lain memilih jalan yang lebih keras. Di Mesir masa kini terdapat dua gelombang besar organisasi oposisi: Ikhwanul (persaudaraan dengan jalan damai) dan Jihad (perjuangan bawah tanah dengan kekerasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dalam soal penyerbuan Kabul—setidaknya dalam sikap—mereka tampaknya seia sekata. Hubungan batin antara Ikhwanul ataupun sempalan-sempalan Ikhwanul dan Al Qaidah konon memang kuat. "Syaikh Mustapha Mashour, pimpinan Ikhwanul Muslimin, mengakui bahwa Ikhwan pernah mengirim bala bantuan ke Afghanistan pada tahun 1979 untuk melawan Rusia," kata Muhammad Sayyed, pakar politik dan strategi Timur Tengah, kepada TEMPO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwanul Muslimin bisa disebut sebagai organisasi yang menjadi inspirasi munculnya banyak organisasi Islam di Mesir, Suriah, Sudan, Yordania, Kuwait, Yaman, Afghanistan, dan banyak negara di Afrika Utara. Tak dapat disangkal, semua kelompok jihad di Mesir sesungguhnya "alumni" Ikhwan. Padahal, ketika Hasan al-Banna mendirikannya di Ismailiyyah, ia menginginkan agar organisasi bergerak sebagai jemaah sosial Islam. Anggotanya kebanyakan kalangan muslim profesional perkotaan seperti pengacara, akuntan, dan dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari, Banna mengubah Ikhwanul Muslimin menjadi sebuah organisasi politik yang memiliki sayap militer. Dalam anggaran dasarnya memang disebut bahwa mereka memiliki organisasi rahasia (Al-Tanzhim Al-Khashsh). Sayap militer Ikhwanul inilah yang bergabung dalam perang Arab-Israel 1948-1949 dan menjadi bagian angkatan bersenjata Mesir. Pada tahun 1940-an, sayap militer ini dikenal dekat dengan organisasi rahasia opsir bebas, sebuah "klan" dalam tubuh militer Mesir yang dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu sore pada tahun 1948, terjadilah sebuah demonstrasi besar di Kairo. Di antara demonstrasi yang diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswa anggota Ikhwanul itu, dua opsir Inggris tewas. Maka, Perdana Menteri Nuqrasyi Pasya mengeluarkan dekrit militer yang berisi pembubaran kelompok Ikhwan Al Muslimun. Hasilnya, sebuah dialektika pembunuhan mengerikan. Nuqrasyi tewas di tangan anggota Ikhwan. Polisi rahasia balas menembak mati al-Banna pada 12 Februari 1949. Pengganti al-Banna adalah Hasan Al Hudaibi. Tanpa pimpinan al-Banna yang karismatis, toh kepemimpinan Al Hudaibi menggulirkan revolusi dengan sukses. Pada 26 Juli 1952, garda militer Ikhwan dan Nasser bahu-membahu menggulingkan Raja Faruq. Pasukan Kavaleri 17 dari pasukan Nasser mengepung istana, memaksa Raja Faruq meninggalkan negeri itu. Sementara itu, divisi militer Ikhwan berjaga-jaga dan siap berbenturan dengan pasukan pengawal raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bulan madu antara kaum Ikhwan dan Nasser tak berlangsung lama. Setelah revolusi berhasil, Nasser ternyata mengingkari janji untuk menyertakan Ikhwanul dalam kekuasaan. Ikhwan mengkritik kecenderungan militerisme Nasser. Akibatnya, Ikhwanul Muslimin dibubarkan untuk kedua kalinya. Para aktivisnya ditangkap dan disiksa habis-habisan dalam penjara. Dalam sel-sel penjara, militansi para Ikhwan semakin berkobar. Apalagi para anggota Ikhwanul mendapat energi dari pemikiran dan penderitaan Sayyed Qutb, intelektual masyhur Mesir, sang penghubung kunci antara sayap militer Ikhwan dan Nasser di tahun 1952, yang juga dibui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qutb disiksa secara brutal dalam tahanan. Bagi Qutb, penderitaan adalah jalan yang harus ditempuh para syuhada. Dari dalam penjara, lelaki kelahiran 1906 itu—dengan fisik yang rapuh—mengeluarkan gagasan menyetujui penggunaan ke-kerasan senjata terhadap pemerintah yang jahiliah. Tulisan-tulisan Qutb tentang penyakit-penyakit kontemporer membuat para Ikhwan gigih melawan dari bawah tanah. Nasser menjadi Presiden Mesir pada 1956. Tahun 1966, Qutb dihukum mati dan Nasser meninggal empat tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Sadat, yang mengganti Nasser, membebaskan semua anggota Ikhwan yang dipenjara. Dia menerima Ikhwanul tapi tidak memberi legalisasi sebagai organisasi politik. Pada zaman Sadat ini, Ikhwanul mencoba tampil dengan wajah baru. Mereka mencoba memosisikan diri di garis tengah, antara organisasi radikal yang diilhami Sayyed Qutb dan organisasi yang juga berkompromi dengan pemerintah. Tapi, ketika Sadat menjalin perdamaian dengan Israel, persekutuan itu diam-diam putus, sementara masyarakat Mesir sendiri berdemonstrasi dan mengkritik "perdamaian" itu. Sadat memerintahkan penjeblosan ribuan aktivis lawan politiknya. "Semua orang Mesir tampak menjadi arzal, orang-orang galak," demikian ditulis sejarawan Mohammad Heikal, jurnalis senior yang dipenjarakan Sadat. Pada waktu itu sikap Ikhwanul Muslimin dianggap tak cukup jelas oleh sebagian masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA SAAT itulah Ikhwanul dianggap mulai lembek. Maka, lahirlah kelompok Al Jihad, yang beranggotakan mantan Ikhwanul Muslimin. Kelompok ini menganggap pemerintah Mesir kafir, dan mereka gencar melakukan aksi radikal. Selain Al Jihad, faksi-faksi keras lainnya pun lahir seperti Al-Fanniyah Al-Askariyah, Jamah Al-Tafkir wa Al-Hijrah, yang tak memiliki hubungan struktur satu sama lain. Lahirnya mereka, sebagian besar, karena di-ilhami tulisan Sayyed Qutb terutama tentang jahiliah modern, pemerintah, dan masyarakat yang menyeleweng dari kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di matanya, Ikhwanul kehilangan wibawa. Sampai tibalah hari itu, 6 Oktober 1981, saat Sadat menghadiri parade militer. Wartawan senior Mesir, Mohammad Heikal, bercerita bahwa semua hadirin bertepuk tangan melihat atraksi akrobatik pesawat-pesawat Phantom Mesir. "Sekarang datang pasukan artileri," kata pembawa acara. Sekonyong-konyong, demikian ditulis Heikal, salah satu truk dalam parade menyeruak keluar barisan. Lalu, sebelum penonton sadar, dua buah granat melayang, rentetan tembakan telah terjadi. Sadat terkapar bersimbah darah. Al Jihad mengaku mereka bertanggung-jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hosni Mubarak, pengganti Sadat, langsung menghukum mati banyak anggota Al Jihad. Tokoh karismatik Al Jihad—yang juga bekas anggota Ikhwanul—seorang shaikh buta bernama Omar Abder Rahman, dipenjara. Bagi Omar, Ikhwanul telah menjadi organisasi banci. "Ada suatu saat ketika setiap orang ingin bergabung dengan Ikhwan. Tapi kemudian, ketika Ikhwan berbalik mengikuti permainan politik pemerintah, seperti pemilu dan diam saja ketika dianiaya pemerintah, ini membuat banyak anak muda muak. Kaum muda melihat Ikhwan adalah organisasi yang ketinggalan kereta. Mereka menganggapnya kuno," kata Omar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omar dilepas dari penjara pada 1984. Tapi, dua tahun kemudian, ia dituduh terlibat pembunuhan seorang polisi di dekat Masjid Faiyoum, barat daya Kairo. Melalui Khartoun (Sudan), Omar lari ke AS dan menetap di New Jersey sejak 1990. Konon, dari AS, ia dikabarkan mengendalikan seluruh kegiatan terorisme di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Omar, Al Jihad di Mesir pecah dan melahirkan faksi militer militan lain bernama Al Gamma al-Islamiya. Kelakuan kelompok ini semakin brutal. Target teror Al Gamma al-Islamiya sangat luas: masyarakat Kristen Koptik, minoritas di Mesir, turis-turis, pemikir sekuler, novelis, dan segala hiburan berbau Barat, termasuk resital musik dan film. Desember 1993, dengan alasan menjaga anak muda dari erotisme, aktivis Al Gamma menyerang Festival Film Kairo dengan senapan mesin. Satu orang tewas dan sejak itu para bintang film kenamaan Mesir sampai menyewa bodyguard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1993, kelompok Al Gamma memperingatkan agar pemerintah Barat segera mengevakuasi warganya yang tinggal di Mesir. Mereka menolak masuknya investasi asing di Mesir. Pada tahun itu, lantai dasar World Trade Center di-ledakkan bom. Shaikh Omar Abder Rahman terseret menjadi salah seorang tertuduh dan diganjar hukuman penjara di AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, terjadi rentetan pembunuhan para penulis dan novelis di Mesir yang dianggap kontroversial menghina iman Islam. Pada Juni 1993, Farag Foda, pemikir yang sering mengkritik kaum fundamentalis Islam, ditembak mati oleh aktivis Al-Gamma al-Islamiya. Pada Oktober 1994, giliran Naquib Mahfouz. Sastrawan peraih Nobel ini mengalami percobaan pembunuhan. Pada usia 83 tahun, ia ditikam lehernya oleh anak muda anggota Al Gamma di pedestrian apartemennya ketika ia hendak berangkat menghirup kopi di Kafe Kashr al Nil—seperti kebiasaannya sehari-hari. Untung, ia selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi terorisme terbesar di Mesir adalah tahun 1997. Di sebuah pagi tanggal 17 November 1997, dua buah bus turis berwisata ke Piramid Ratu Hatshepsut, yang terletak di delta Sungai Nil, Luxor. Begitu menjejakkan kaki di area peninggalan arkeologis berumur 3.000 tahun itu, para turis disambut dengan berondongan senjata dan tusukan pisau. Enam puluh delapan turis tewas di tempat, 24 orang luka parah. Sebuah leaflet ditinggal di atas serakan mayat bertanda Al Gamma al-Islamiya. Dalam sebuah wawancaranya dengan BBC, Shaikh Omar Abder Rahman memang pernah mengatakan: "Turisme di Mesir mengakibatkan kemerosotan moral dan mendatangkan penyakit seperti AIDS. Turisme mendorong alkohol, zina, dan night club."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengejutkan, bila dilacak sesungguhnya sejak dulu Shaikh Omar—tertuduh pengebom lantai dasar WTC—ini memiliki kedekatan dengan Osama bin Ladin. Kedekatan itu terjadi melalui seorang Palestina, gerilyawan Taliban bernama Abdullah Azam. Abdullah Azam, bekas anggota Ikhwanul Muslimin, semula adalah dosen hukum di Universitas Islam di Islamabad. Azam dikenal sebagai tokoh yang memopulerkan ajaran-ajaran jihad Shaikh Omar dan membaptis Omar sebagai seorang doktor Islam. Hingga akhir hayatnya, Azam sendiri berjuang di pegunungan Afghanistan. Tahun 1989, ia mati bersama dua orang anaknya karena bom di Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Afghanistan, ia dikenal sebagai pemimpin dari "Arab Afghan" yang memiliki lebih dari 9.000 sukarelawan. Salah satu sukarelawannya itu bernama Osama bin Ladin, yang kaya raya. Bisa dikatakan, Azzam adalah salah seorang guru Osama. Ia disebut-sebut sebagai orang pertama yang membentuk ideologi dan intelektualitas jihad Osama. Berkat Azzam, Osama akhirnya menyediakan semua fasilitas dan dana untuk Afghanistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kenal dengan Omar, Osama berusaha menjembatani pertentangan yang terjadi antara Al Gamma al-Islamiya dan Jihad Islam, terutama antara Omar atau anggota Al Gamma al-Islamiya lainnya dan Dr. Ayman adz Dzawahiry, pemimpin Jihad Islam. Hubungan antara Osama, kelompok Al Gamma, dan Jihad Islam pada Juni silam direkam oleh televisi Kuwait. Dikabarkan bahwa, dalam salah satu cuplikan adegan, tampak Osama menembakkan senjata dan memimpin sendiri latihan anak buahnya. Harian Ar-Ra'yul terbitan Kuwait, yang berhasil memperoleh rekaman video itu, menyebut beberapa tokoh Islam keras dari Mesir berada di tengah pasukan Al Qaidah. Di antaranya Dr. Ayman adz Dzawahiry, yang dikenal menyempal dan sangat berbeda dengan Ikhwanul Muslimin. "Ya, Dr. Ayman adz Dzawahiry dan beberapa pimpinan Jihad Islami lain—seperti Rifa'l Ahmad Thaha—saya perkirakan hingga kini masih bersama jemaah Al Qaidah," tutur Muhammad Sayyed Sa'id, pakar politik Timur Tengah, kepada TEMPO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa Osama memang dekat dengan berbagai tokoh-tokoh militan radikal Islam—yang keluar dan menyempal dari Ikhwanul Muslimin. Tentu saja dengan mudah banyak orang menduga—meski sukar mencari bukti keras—bahwa Osama bin Ladin berada di balik pembiayaan kegiatan kelompok yang berbeda-beda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HINGGA kini, sesungguhnya kelompok asli Ikhwanul Muslimin tetap mengutuk terorisme dan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan kelompok ekstrem itu. Mereka menyangkal memiliki aliansi dengan Jihad Islam atau Al Gamma al-Islamiya. "Ada masa-masa ketika kami begitu tertekan dan benar-benar terpojok. Maka, tidak ada jalan lain kecuali membela diri. Kekerasan dihadapi dan dibalas dengan kekerasan. Kini kita sudah tidak menggunakan jalan kekerasan karena berjuang secara legal," kata Muhammad Makmoon Hudaiby, Wakil Ketua Ikhwanul Muslimin, kepada TEMPO. Lelaki berjanggut putih orang nomor dua kelompok Ikhwanul ini menjelaskan bahwa strategi Ikhwanul sekarang adalah jalan parlementer. Para aktivisnya—sejak masa pemerintahan Nasser—meski tidak terang-terangan menyatakan diri sebagai anggota Ikhwan, toh masuk ke partai-partai kecil untuk ikut dalam pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Ikhwan meninggalkan kekerasan, Mubarak tetap menganggap kelompok ini berbahaya. Menurut Mubarak, organisasi ini hanya tenang pada lapisan luar, tapi tetap memiliki hubungan rahasia dengan kelompok militan. "Soalnya, Presiden Hosni Mubarak telah enam kali mengalami upaya pembunuhan. Ia percaya para aktivis Ikhwanul ikut terlibat," kata pengamat Muhammad Sayyed Said. Ia menggencet, memarginalisasi setiap usaha politik Ikhwanul Muslimin. Tetapi, semakin ditindas, anggota Ikhwanul semakin unjuk gigi. Mereka ingin membuktikan citra bahwa mereka adalah kelompok moderat dan berbeda dengan kelompok keras. Beberapa gerakan yang mengejutkan adalah saat pemilu November 2000 lalu, misalnya, secara terang-terangan mereka menyokong seorang wanita: Sayyedah Jiham el-Helfawwy dan seorang Qibty (seorang umat Kristen Koptik) sebagai calon independen untuk parlemen. Mesir geger karena dua calon ini semestinya bagi kaum fundamentalis terlarang menjadi pemimpin di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pencoblosan dilakukan, tentara menyerang beberapa pendukung Ikwanul untuk melakukan pencoblosan. Di kampung delta Nil, Dahkala, sebelah utara Kairo—dikenal sebagai basis Ikwanul Muslimin—ratusan warga terluka dan lima orang tewas. Ikhwanul mendapat 15 kursi di parlemen—suatu jumlah yang terbesar di antara partai oposisi lain seperti Partai Nasserist dan Hizb al-Ahrar (partai liberal). Meski Hizb al-Dimugratiyah al Wataniyah (Partai Nasional Demokratik), partai Hosni Mubarak, tetap menang mutlak, perkembangan pesat Ikhwanul membuat Mubarak kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan masuk parlemen, Ikhwanul akan semakin tahu kelemahan-kelemahan pemerintah. Kami akan terus melahirkan undang-undang yang demokratis," kata Dr. Abdul Fatah, seorang wakil Ikhwanul di parlemen. Kecenderungan moderat Ikhwanul ini juga terpancar pada sosok Jamal al-Banna, adik Hasan al-Banna. Ditemui koresponden TEMPO di kantornya di Jalan Syari' Jaish, Kairo, Jamal al-Banna menyatakan keheranannya mengapa Nawal El Sa'dawy sampai harus dihadapkan ke pengadilan. "Itu adalah bentuk pembelengguan kebebasan berpikir," katanya. Pernyataan ini sungguh mengejutkan karena pemikiran feminis Sa'dawy sering dianggap keterlaluan dan sampai dicap murtad oleh mufti Mesir, Faried Wasil (lihat wawancara khusus dengan Jamal al-Banna).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan ini, kelompok Ikhwanul tengah dilanda kesibukan memilih ketua umum baru. Bursa calon ketua diramaikan oleh kandidat Yusuf Qardhawi, ulama yang dikenal sangat menganjurkan demokrasi dan pluralisme. Bila Qardhawi menang, bisa dipastikan wajah Ikhwanul makin moderat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan jika, di masa mendatang, Mubarak akan menganggap Ikhwanul sebagai potensi oposisi yang menakutkan. Ini juga lantaran sumber daya ekonomi pengikut Ikhwanul kini paling merata. Hampir semua jabatan strategis di bidang profesional Mesir, dari kedokteran, pengacara, insinyur, apoteker, dosen, sampai ekonom, diisi oleh anggota Ikhwanul. Mereka memiliki dana yang memadai. Di kalangan rakyat bawah, Ikhwanul juga terkenal ringan tangan. Ketika gempa bumi mengguncang Kairo pada tahun 1992, Ikhwanul adalah organisasi yang tercepat yang segera bergerak me-nolong para korban. Mereka menyediakan ratusan tenda bagi yang kehilangan rumah, dan memberikan bantuan pengobatan. "Mereka baik hati. Sering memberi tambahan uang bagi mahasiswa-mahasiswa asing di Mesir," kata seorang mahasiwa Al Azhar asal Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Ikhwanul yakin bahwa menjadi oposisi dalam parlemen, melakukan perubahan terencana secara bertahap, lebih efektif daripada melakukan teror. Menurut pengamatan wartawan TEMPO, saat terjadi demonstrasi di Mesir menentang Ariel Sharon—yang beberapa waktu lalu mengunjungi Masjidil Aqsa—para tokoh Ikhwanul cenderung tidak reaksioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini tanah Afghanistan terancam akan digempur oleh AS. Bila pekan mendatang Kabul menjadi santapan misil-misil AS, akan menarik untuk memperhatikan sikap kaum Ikhwanul, karena mereka kini adalah organisasi yang menjadi berwajah lebih moderat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21746840-113912696963377202?l=elqudsy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elqudsy.blogspot.com/feeds/113912696963377202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21746840&amp;postID=113912696963377202' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113912696963377202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113912696963377202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elqudsy.blogspot.com/2006/02/sebuah-wajah-teduh.html' title='Sebuah Wajah Teduh'/><author><name>zuhaid el-qudsy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05254508842480425101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21746840.post-113902914401093359</id><published>2006-02-03T20:39:00.000-08:00</published><updated>2006-02-03T20:59:04.020-08:00</updated><title type='text'>Ibadah Harus, Belanja Jalan Terus</title><content type='html'>&lt;span style="color:#000099;"&gt;Paket umrah dan ONH plus biasanya disertai bonus pelesir ke pusat belanja, lokasi bersejarah, bahkan hiburan malam.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIK, dik, kok bisa ya, penari tadi yang bergetar hanya perutnya?" tanya seorang ibu. Pertanyaan itu segera ditambahi bisikan seorang bapak setengah baya, "Dik, mbok, tolong nanti Bapak dicarikan CD-nya, ya. Biar ketika di Indonesia bisa Bapak putar kembali." Tatap mata si bapak seolah tak berkedip, diiringi tetabuhan ketipung dan aneka perkusi yang melantunkan irama padang pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi goyang Inul? Bukan. Tarian ini bahkan jauh lebih dahsyat ketimbang si ratu ngebor itu. Mereka mengomentari seorang perempuan penari perut yang melenggak-lenggok di tengah panggung. Ini terjadi setelah jamuan makan malam di atas kapal yang mengelilingi sungai Nil di Kairo, Mesir. Di kejauhan, tampak gagah berjajar gedung tinggi dan sejumlah hotel terkemuka negeri yang terkenal dengan piramid dan spinx-nya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar, jangan menuduh mereka datang jauh-jauh dari Indonesia hanya untuk menonton tarian erotis itu. Mereka bahkan mungkin tidak tahu bahwa akan melihat pemandangan seperti itu. Wong, nawaitu dari Indonesianya saja mau beribadah. Asal tahu saja, mereka adalah jemaah umrah yang berpelesir ke negeri para syekh itu, setelah beribadah di Tanah Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ada juga yang tak suka, namun lebih banyak yang memaklumi kejutan ini. Semua orang juga mafhum, beribadah ke Tanah Suci sekarang ini tidak melulu urusan ibadah. Bahkan terkadang tambahan mengunjungi negeri Timur Tengah seperti Mesir atau Turki yang menjadi daya tarik sebuah paket wisata ibadah. Pelesir sambil ibadah (atau ibadah sambil pelesir) bahkan sudah dimulai sejak di Tanah Haram sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar saja cerita aktris cantik Cindy Claudia Harahap. Ia sudah empat kali berumrah—tiga kali di antaranya pada bulan Ramadan. Pelesiran, bagi putri musisi Rinto Harahap itu, merupakan salah satu imbuhan menyenangkan dalam berumrah. "Seru banget. Kita bisa mengunjungi banyak tempat, baik untuk hiburan, shopping, maupun ke tempat bersejarah," ujar Cindy. "Tapi tentu saja aktivitas ibadah tetap dijalankan dengan khusyuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanja? Jangan tanya. Ini adalah hiburan utama yang "wajib" dilakukan oleh para peziarah umrah atau haji. Rugi kalau tak menyempatkan diri berbelanja. Selain karena barang-barangnya murah, mereka juga perlu oleh-oleh untuk dibawa pulang. "Terutama ibu-ibu. Mereka sampai berlebihan jika berbelanja," kata Cindy. Jadi, kata dia, rasanya tak mungkin orang yang beribadah di Tanah Suci lalu pulang tidak membawa oleh-oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tempat yang bisa menggoda para shopaholic, si gila belanja. Dari pengamatan TEMPO, di sekeliling Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, yang paling terkenal adalah Pasar Seng. Di sini banyak dijajakan peralatan salat, tasbih, kurma, busana muslim, dan sebagainya. Pokoknya, mereka yang belum menyiapkan "oleh-oleh" dari Tanah Abang dapat membeli oleh-oleh asli di sini. Tapi jangan kecele dengan batu-batu aji macam pirus, akik, yang—ironisnya—justru berasal dari Tanah Air. Bagi jemaah "kelas atas", atau yang ingin belanjaan mentereng, lazimnya mereka membanjiri gerai-gerai di hotel berbintang yang tak jauh dari Masjidil Haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jeddah lebih seru lagi. Di pintu gerbang jemaah untuk keluar-masuk Tanah Suci itu ada Balad Shopping Center—kebiasaan berkeliling belanja seusai ibadah ini sering dipelesetkan dengan "tawaf balad". Di sini jualan utamanya bukan korma, jilbab, atau tasbih. Ada parfum Gucci dan pemutar VCD Sonny yang ditawarkan dengan harga murah. Menurut Cindy, sebotol parfum yang kalau dibeli di Jakarta berharga Rp 600 ribu, di Balad cuma Rp 350 ribu. Maklum, bebas pajak. Selain murah, barang di pasar seluas 5 hektare ini juga dijamin keasliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking banyaknya jemaah asal Indonesia yang belanja, suasananya jadi kayak di rumah sendiri. "Kebanyakan jemaah ONH plus menghabiskan waktu untuk putar-putar di Balad. Biasanya setelah mereka melakukan tawaf umrah, atau setelah ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Saudi," kata Ridwan Satriawan, mahasiswa tingkat akhir Universitas Al-Azhar asal Jawa Barat yang pernah menjadi tenaga musiman haji (temus) pada 2002. Mereka bisa mendapatkan apa saja yang mereka cari. Tapi kebanyakan mereka menghabiskan segepok dolar untuk membeli berbagai macam barang elektronik. "Karena tidak dipungut pajak," kata Ridwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, cerita soal kelebihan bagasi jamak terdengar, saat krisis sekalipun. "Minimal dua koper tambahannya," kata Cindy. Hobi belanja orang kita memaksa para penjaga toko di sana bisa berbahasa Indonesia. "Ibu, tasbih bagus, murah," demikian cara para pedagang keling dari Bangladesh atau Pakistan menawarkan barangnya. Ketika TEMPO mengantarkan jemaah ONH plus ke Pasar Seng, seorang pedagang jilbab berteriak-teriak, "Lima belas rial... lima belas rial." Ketika ditawar dengan harga yang lebih tinggi, ia malah menggeleng. Rupanya pedagang itu tak tahu hitungan dalam bahasa Indonesia. Ia cuma tahu angka untuk harga barangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atmosfer pasarnya juga unik. Ada nuansa Islaminya. Misalnya, saat kita asyik berbelanja atau menawar barang, tiba-tiba terdengar kumandang azan. Maka secara otomatis semua orang menghentikan aktivitas, semua barang ditutup terpal, dan mereka pergi wudu untuk menunaikan salat. Penjual maupun pembeli salat bareng. "Bagi saya ini nuansa Islami yang tidak bisa diukur dengan apa pun. Ini mendorong kita untuk selalu ingat Tuhan meski kita sedang bersenang-senang," ujar Cindy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain ONH plus, lain pula umrah plus. Kalau haji plus, semakin mahal semakin cepat waktunya. Tapi umrah plus justru semakin mahal semakin lama. Ini karena yang dijual ONH plus adalah kepraktisan, sedangkan umrah plus biasanya menawarkan pelesir tambahan ke negara-negara Timur Tengah sekitar Saudi, seperti Mesir, Yordania, Palestina (Yerusalem), atau Turki. Wisata ke negara-negara itu dilakukan sebelum atau sesudah umrah. Harganya pun bermacam-macam, tergantung negara tambahan yang dituju. Misalnya untuk tujuan wisata Mesir atau Turki, biro perjalanan biasanya mematok harga dari US$ 1.300 hingga US$ 1.500.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesir termasuk yang favorit. Daerah yang dituju bukan melulu tempat religius seperti Masjid Al-Azhar atau Masjid Hussein, tempat dikuburnya cucu Nabi Muhammad. Mereka juga mengunjungi museum nasional, kuburan Firaun, piramida, atau tempat belanja cendera mata seperti Khan Khalili yang sangat beken itu. Bahkan mereka juga bisa menikmati tarian perut sambil makan malam seperti tadi. Bagi para ibu-ibu penggemar kristal, biasanya mereka digiring pemandu ke pabriknya, di pinggiran kota Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanja setelah ibadah memang tidak dilarang. Perilaku ini konon sudah tertera dalam nubuat Nabi Muhammad. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ad-Dailamy, beliau bersabda, "Akan datang kepada umat manusia suatu masa, di mana orang-orang kaya umatku berhaji untuk pelesir, kalangan menengahnya (berhaji) untuk berdagang, dan orang miskinnya (berhaji) untuk menyombongkan diri." Anda termasuk yang mana?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21746840-113902914401093359?l=elqudsy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elqudsy.blogspot.com/feeds/113902914401093359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21746840&amp;postID=113902914401093359' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113902914401093359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113902914401093359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elqudsy.blogspot.com/2006/02/ibadah-harus-belanja-jalan-terus.html' title='Ibadah Harus, Belanja Jalan Terus'/><author><name>zuhaid el-qudsy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05254508842480425101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21746840.post-113894180804275359</id><published>2006-02-02T20:38:00.000-08:00</published><updated>2006-02-02T20:43:28.053-08:00</updated><title type='text'>Selepas Lohor Berdarah di Aljir</title><content type='html'>Selepas lohor di Boufarik, 20 kilometer sebelah selatan Aljir, ibu kota Aljazair. Penduduk kampung miskin itu baru saja pulang dari masjid ketika letusan pertama senapan terdengar. Letupan senjata otomatis itu ternyata tak kunjung berhenti hingga tiga jam kemudian ketika Antar Zouabri, Komandan Kelompok Tentara Islam (GIA), tewas tertembak. "Dari sidik jarinya, kami yakin dia adalah Zouabri," kata Komandan Tentara Wilayah Timur Aljazair, Jenderal Fodil Cherif Brahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zouabri merupakan salah satu buruan nomor satu Presiden Abdulaziz Bouteflika. Pemerintah Aljazair menuduh Zouabri berada di balik pembantaian ribuan warga sipil yang menentang gerakan pemurnian Islam yang dipelopori GIA. Zouabri juga dianggap mendalangi penculikan ribuan perempuan muda Aljir. GIA kabarnya menyekap gadis-gadis belia itu di hutan-hutan pegunungan dan menjadikan mereka budak syahwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tewasnya Zouabri merupakan pukulan kesekian bagi gerakan radikal Islam Aljazair. Bulan lalu, kepolisian Maroko menangkap seorang pemimpin senior Front Penyelamat Islam (FIS), partai terlarang di Aljazair. Beberapa waktu sebelumnya, tujuh anggota Kelompok Salafist, pecahan GIA yang juga melawan pemerintahan Bouteflika, ditangkap di Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih sial lagi, persatuan kelompok radikal melawan pemerintah kini mulai mengendor. Dengan lihai, Bouteflika berhasil merangkul kelompok Tentara Penyelamat Islam (ISA), salah satu sayap militer FIS, untuk berdamai. Imbalannya, presiden yang didukung para jenderal militer itu memberi pengampunan kepada ribuan tahanan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan kekerasan mulai merobek Aljazair sejak sepuluh tahun silam ketika pemerintah menunda pelaksanaan pemilu. Kala itu, Presiden Mohamad Boudiaf khawatir kelompok radikal yang ingin mendirikan negara Islam akan memenangi pemilu. Dalam pemungutan suara tahun sebelumnya, FIS meraih 55 persen suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penundaan pemilu tersebut, bentrokan berdarah seperti tak kunjung mereda dari negeri di tepian Sahara itu. Tak kurang dari 120 ribu orang telah menjadi tumbal pelbagai aksi kekerasan selama sepuluh tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, ketika perlawanan mulai menyusut, praktis hanya GIA dan Salafist yang masih menempuh jalan pedang terhadap pemerintahan Bouteflika. Tapi, menurut Musthafa Kamel L. Sayyid, anggota Dewan Pakar Politik Arab di Pusat Kajian Al-Ahram, Kairo, pukulan telak terhadap kelompok radikal Islam tidak akan membungkam gerakan ini, tapi justru bakal menyalakannya. "Kekerasan," katanya kepada Zuhaid el-Qudsi dari TEMPO, "akan dibalas dengan kekerasan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GIA dipercaya terlibat dalam pembunuhan Boudiaf pada 1992. Dua tahun kemudian, kelompok ini diyakini telah mendalangi pem-bajakan pesawat Air France di bandar udara Aljir. Sementara itu, Salafist diduga memiliki hubungan dengan Al-Qaidah. Menurut penulis Aljazair, Yasmina Khadra, Usamah bin Ladin telah mempengaruhi para pemimpin Salafist agar menolak jalan damai yang ditawarkan Bouteflika, tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya modal gerakan radikal untuk memenangi hati rakyat Aljazair sedang subur-suburnya. Perekonomian negeri kaya minyak itu, sebagaimana perekonomian negara-negara berkembang yang lain, sedang morat-marit. Pengangguran meledak, pasokan perumahan jauh dari cukup, roda ekonomi seperti mandek tak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di lapangan politik, suara rakyat juga tersumbat. Sistem pemerintahan yang dikuasai broker politik sangat represif terhadap kebebasan berbicara. Sebuah demonstrasi maraton—berlangsung tujuh pekan berturut-turut—yang menentang Bouteflika telah me-ledak di Aljir. Para demonstran menuntut kebebasan sipil dan pemberantasan korupsi. Hingga pekan lalu, lebih dari 80 warga sipil dilaporkan mati tertembak dan ratusan lainnya luka-luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, angin tampaknya memang sedang tak berpihak pada gerakan radikal Islam. Sejak teror Manhattan 11 September, kelompok ini dipojokkan. Di mana-mana, di Mesir, Suriah, Tunisia, juga di Asia Tenggara, ratusan anggota kelompok garis keras ditangkap. Sebagian dikirim ke pengadilan militer, sebagian lagi dipenjara begitu saja. Ruang gerak mereka dibatasi. Pemerintah Sudan, Yaman, dan Uni Emirat Arab, yang biasanya menjadi surga pelarian politik, kini mempermudah syarat-syarat ekstradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Eropa, yang selama ini menjadi tempat mengungsi kelompok radikal, kini juga bukan tempat yang aman. Beberapa waktu lalu, London menangkap Yassir al-Sirri, pemimpin Gamaat Islamiya, gerakan Islam garis keras yang dianggap berbahaya oleh pemerintah Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim telah berganti. Barangkali begitu juga seharusnya cara-cara perjuangan Islam radikal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21746840-113894180804275359?l=elqudsy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elqudsy.blogspot.com/feeds/113894180804275359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21746840&amp;postID=113894180804275359' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113894180804275359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113894180804275359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elqudsy.blogspot.com/2006/02/selepas-lohor-berdarah-di-aljir.html' title='Selepas Lohor Berdarah di Aljir'/><author><name>zuhaid el-qudsy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05254508842480425101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21746840.post-113885431036461319</id><published>2006-02-01T20:22:00.000-08:00</published><updated>2006-02-01T20:25:10.370-08:00</updated><title type='text'>Before the Ghazala Bomb</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;The explosions which ripped through Sharm el-Sheikh brought many memories to the fore for Tempo contributor Zuhaid el-Qudsy who visited the tourist resort some time ago. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;THE Sharm el-Sheikh that I know is a happy and boisterous town. It turns red when the sea and mountains that surround it deflect the morning sun. It is a town that never sleeps.When I heard that three bombs had exploded in Sharm el-Sheikh and ripped through the pretty tourist town, my skin prickled. I imagined the grand Ghazala Gardens in the string of luxurious hotels in the busy Naama district full of wrecked cars, ruined buildings, broken glass and scattered body parts. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Since the massacre at Luxor, a city along the Nile, which killed 58 tourists and four local residents in November 1997, Sharm el-Sheikh has never been a relaxed city. To enter the town, you need to pass a checkpoint where police carefully inspect every car, bus and even every airplane. I experienced this once when I had been assigned by Tempo to cover the Israel-Palestine peace negotiations initiated by Egypt and the US in October 2000. That was my first visit to Sharm el-Sheikh. The city did not change much in the years to follow-it was picturesque, rich and busy as a result of the dollars brought in by wealthy tourists from countries near and far. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;I departed for Sharm el-Sheikh along with other journalists on a complimentary bus provided by the Egyptian Press Center. After a six-hour journey, we arrived in Sharm el-Sheikh just as the sun was rising. Oh my God, the view was extraordinary. Sinai consisting of a string of mountains, sea and desert had turned red in the morning sun. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Before entering the city, we passed a Bedouin campsite. Bedouins, one of the many ethnic groups in Egypt, are nomads who set up colorful, merry tents between the barren mountains and the crashing waves of Naama Beach. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;In actual fact, Sharm el-Sheikh's assets are fairly basic: a clean environment, the sea, beaches, and sunshine all year round. It is these simple things that have turned one of Egypt's historical towns into a luxurious tourist destination and a place for the rich and famous to meet. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Thousands of tourists from all parts of the world, including Israel, spend their holidays here. Five-star hotels, such as Hilton, Marriott, Sheraton, and Novotel have sprung up. Thus it is not surprising that Sharm el-Sheikh contributes quite a bit to Egypt's treasury. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The shattered Ghazala Gardens Hotel pictured on television sticks in my mind. The whitewashed walls and flower gardens were captivating. There was a large heated swimming pool. People preferred Ghazala Gardens to other four-star hotels because at US$45 (Rp440,000) per night it was cheap and the service was excellent. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ghazala, however, was not a preference for wealthy tourists in Sharm el-Sheikh. They usually choose to stay at five-star hotels such as the Jolie Ville Movenpick Resort, Marriott Beach, and Hilton Fayrous. Only because it is close to the Ras Muhammad diving area and has a renowned Italian restaurant does this hotel become their first alternative should their favorite hotels be full. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;But all of its beauty has been ripped to shreds. "Glass, furniture, many other things-things that you would not believe-were thrown up into the air. Windows were smashed," one witness told The Washington Post. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The whiteness that had dominated the hotel lobby had become as black as coal. Doors had been ripped from their hinges. A palm which had previously been next to the entrance had been burnt and thrown as far as the car park. Shards of glass had been scattered meters away. The only thing that was visible immediately after the explosion were fires that rose meters into the air. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;And what about the Old Market in the center of the city around 6 kilometers from Ghazala Gardens? According to the news, the market had been blown to smithereens. And, it was busy when the explosion had occurred. "People ran around panicking and bumped into one and other. They were blinded by the thick smoke and bright flames," said a witness who had been drinking Turkish coffee in a café close to the scene. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;I remembered that the majority of tourists to the town like scuba diving, clubbing, watching belly dancing, and playing golf, or watching camel races whilst enjoying a glass of karikarde, a special Egyptian drink that is sour but refreshing. Meanwhile, Arab tourists like to watch belly dancers, and eat kebabs and smoke hookahs. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Violence is definitely something that Sharm el-Sheikh knows about. Because of its strategic location-between the Gulf of Aqabah, the Suez Canal, and the Red Sea-Israel once targeted the city. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Israel's late Defense Minister Moshe Dayan, for example, once ordered his army to defend Sharm el-Sheikh at any cost. This occurred after Israel had occupied the Sinai Desert during the Arab-Israeli War of 1967. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;In addition to the beautiful panorama, Dayan understood just how strategically located the city was from a military point of view. The town controls access into Israel as well as Jordan. It is located at the opposite end the Gulf of Aqabah from Elat (Israel's most important port in the Red Sea) and Al Aqabah (Jordan's only point of access to the sea). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;From Sharm el-Sheikh, one can monitor the southwest coast of Saudi Arabia located across the Gulf of Aqabah and Egypt's east coast on the African continent. Controlling Sharm el-Sheikh meant having the ability to control many other Arabian countries. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;It was also for this reason that when the Arab-Israeli War climaxed in 1973, Egypt decided to emphasize a military attack in the southern area of Sinai. A large battle between the Egyptian and Israeli armies occurred along the south coast of Sinai. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Even during the negotiation period, Egypt and Israel continued to fight in South Sinai. When they signed the Camp David Peace Accord in 1978, which managed the withdrawal of Israeli troops from the Sinai Desert, Egypt asked Israel to relinquish South Sinai first. Israel, however, refused to do so, and instead Sharm el-Sheikh was the last city they surrendered. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Unfortunately, because the struggle had also taken Sharm el-Sheikh by force, another endless conflict arose, this time between the Egyptian government-which at that time was led by President Anwar Sadat-and Islamic movements represented by Ikhwanul Muslimin. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;It is said that Sadat once enticed Ikhwanul Muslimin with a position in his government in exchange for assistance in fighting the Israelis. In actual fact, after they had regained Sinai together, the official position never came. Sadat instead began arresting, torturing, and imprisoning Ikhwan activists. Up until the present-day government, led by President Husni Mubarak, Ikhwan activists are still frequently arrested on allegations of involvement with radical Islamic groups (see interview with the Secretary-General of Ikhwanul Muslimin, Abdel Kader Muhammed al-Masry). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;This less than harmonious relationship in Egyptian history is one reason for much of the confrontation and violence, including that in Sharm el-Sheikh. Could it be that the bombs in this area, which killed 88 people, were related to Anwar Sadat's failure to fulfill his promise? Or, is it a part of global terrorism that has taken off since the attack on the Twin Towers in New York, USA, on September 9, 2001? I don't know. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Again, I remember the redness of the dawn in Sharm el-Sheikh on the evening just after news of the bombings spread to the outside world.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21746840-113885431036461319?l=elqudsy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elqudsy.blogspot.com/feeds/113885431036461319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21746840&amp;postID=113885431036461319' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113885431036461319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113885431036461319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elqudsy.blogspot.com/2006/02/before-ghazala-bomb.html' title='Before the Ghazala Bomb'/><author><name>zuhaid el-qudsy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05254508842480425101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21746840.post-113885411668890176</id><published>2006-02-01T20:18:00.000-08:00</published><updated>2006-02-01T20:21:56.693-08:00</updated><title type='text'>Terror Without Borders</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Three thundering explosions brought Sharm el-Sheik tumbling down on Saturday two weeks ago. Hotels were flattened, 88 people were killed and over 120 were wounded. This was the worst incident in Egypt's history. Two weeks beforehand, terror of a similar kind took the lives of 53 people in London and killed 100 in Musayyib, 60 kilometers to the south of Baghdad. TempoAugust 02-08, 2005&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sharm el-Sheikh's tragedy confirms that the wave of terror is continuing to spread across the world. Tempo contributor Mohammed Dzonun As`adi, reports from Iskandariyah after interviewing a number of witnesses from Sharm el-Sheikh. His story follows.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;THE hand of a clock ticks over to one o'clock in the morning. The stifling summer heat is slowly replaced by a cool breeze from the desert which washes over the resort town of Sharm el-Sheikh. Hotel lobbies are still buzzing in Sharm el-Sheikh, the pearl of the Sinai Peninsula and the center of Egypt's tourism industry. Located along the shores of the Red Sea the town never sleeps.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;At around about the same time four men from Thaba, in the north of Sinai, confirmed their intentions in the silence. In order to avoid suspicion amongst those guarding the roads into the tourist resort, they wore jalabeya, the full-length robes and white turbans worn by Bedouins-nomads from the desert.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;They departed in two green and white pickup trucks full of vegetables. At exactly 1am two weeks ago, the small group arrived in Sharm el-Sheikh. The two pickups with Thaba number plates then went separate ways. With just a bit of small talk and a few cigarettes handed over as halawah, or gifts for the sleepy guards, they slipped by without being checked. The guards did not suspect that underneath the pile of vegetables were 400 kilograms of explosives.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tempo reporter in Iskandariyah, Mohammed Dzonun As`adi, interviewed a Comoran diplomat to Egypt who told him this story. The diplomat, who wanted his identity to remain undisclosed, obtained this top-secret information from a member of Egypt's intelligence agency, Mabahist, which was involved in investigating the bomb. The family of this Comoran diplomat had been on a summer holiday in Sharm when terrorists set off the 400-kilogram bomb.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The Comoran diplomat told Tempo that the four men who brought the bomb into Sharm very much resembled the real Bedouins who supply the market and hotels with vegetables. So, it was easy for them to slip by without the guards becoming suspicious. The white pickup headed south towards a line of luxury hotels on the shore of Naama Bay (see Before the Ghazala Bomb). At the Movenpick Hotel, one of the four got out of the pickup. He placed a medium-sized backpack under a taxi parked in a hotel enclosure.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;After returning to the truck, he stepped on the gas and headed toward the Ghazala Gardens Hotel near Movenpick. Without slowing down, the white pickup ran straight into the busy hotel lobby. The thundering sound of two explosions echoed around Sharm el-Sheik at exactly 1:15am.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;One bomb exploded in the car park of the Movenpick Hotel. The other exploded in the Ghazala Gardens Hotel lobby. People ran helter-skelter yelling and screaming. In just a moment, the beautiful hotel's lobby had turned into a pile of black rubble. The walls had collapsed and glass from the windows and doors had shattered everywhere. There was a jumble of wrecked cars and body parts in the hotel enclosure. The bomb left a 3-meter-wide hole in the ground and everything in a 91-meter radius in chaos.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Not long had passed when a third bomb was heard; its roaring sound and force equal to the two previous bombs. The third explosion came from the green pickup which had been parked in Suq el-Adema market, 3.2 kilometers from the Ghazala Gardens Hotel. In the morning light which came a few hours later, the black spots dotted across the pretty town of Sharm el-Sheik became visible.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Why were these bombs exploded at a tourist destination full of civilians, including Egyptians? In an interview with Tempo via an international telephone call, the Secretary-General of Ikhwanul Muslimin, Dr. Abdel Kader Muhammed al-Masry said, "I can explain how these bombers think. The Egyptians there [at the tourist destination] are seen as lackeys of a government whose blood is worth being spilled." In addition, "they think that most of the tourists in Sharm el-Sheikh are Jews and Christians," Abdel Kader continued.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The explosions in Sharm el-Sheikh add to the wave of terrorist attacks spreading around the world. Beginning with the bomb in New York on September 11, 2001, which killed 3,000 civilians, a chain of bombs in public areas has followed. Madrid. Bali. Jakarta. London. Riyadh. Mussayib. And now, Sharm el-Sheikh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The terrorists move around like ghosts without clear faces. Some of them are caught and confess, such as what happened in the case of the Bali bombers. Some are identified quickly as in London. The rest are just names and claims on Internet sites. The police track some of them down, such as Noordin Top and Dr. Azahari who were involved in the bombing of the JW Marriott Hotel in Jakarta in August 2003. But even they have eluded the police. Since September 2001, "players" normally confess to having links or are said to correlate with Al Qaeda.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The terror was also visible on the face of President Husni Mubarak, 77, who is in the middle of preparing for national elections to be held on September 7.&lt;br /&gt;Said to be the worst bombing incident in Egypt's history, the Sharm el-Sheikh bombs also ruined Mubarak's popular political mantra: security and stability. But, President Mubarak mobilized police to the bomb location. Just one day after the explosions, the tourist town had turned into an army barrack.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Several hours before the explosions, the Abdullah Azzam Brigade released a statement on their website confirming their involvement. They also claimed responsibility for the bombs at the Taba and Ras Shitan resorts in October 2004 as well as the bomb in Cairo last April. More recently, however, another group called Mujahidin Egypt has also claimed responsibility.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;At the beginning of investigations, Egyptian Police suspected that eight Pakistanis had been involved. It was said that they had flown from Cairo to Sharm just before the bombings. Two of them, Muhammad Akhtar, 30, and Tasadduq Husayn, 18, had been shown on al-Jazeera television. Their passports were also found amongst the rubble at the hotel. Recently, however,&lt;br /&gt;the Pakistani government has protested against this accusation.Last Thursday, investigations reached an important point. Officials successfully identified the suicide bombers at the Ghazala Gardens Hotel. DNA tests were carried out on the body parts of two individuals people suspected as being involved. Subsequently, two people were identified: Youssef Badran and Moussa Badran. The two residents from Al-Metni, a village in Sinai, disappeared after the bombs in Taba which killed 34 people in 2004. "Many of our family members have been arrested and tortured," said Mariam Hamad Salem al-Sawaka, Badran's mother-in-law-as quoted by the AFP. As a result of interrogations, two other names were disclosed: Moussa Ayad Suleiman Awda and Ahmed Ibrahim Hamad Ibrahim.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Head of Investigations into the Sinai Bombs, Brigadier General Hossam Serafi, suspects the two Badran brothers were members of a militant Islamic group in Al-Arish. This group developed from a cell organization which is suspected to have obtained a large amount of funding from overseas. "They have relations with Bin Laden," said the Saudi Arabian Ambassador to the United States of America, Prince Turki al-Faisal. Egyptian strategic military expert, Ahmad Abdul Halim, explained to AP, "they operate in a decentralized fashion. There are low-level leaders that act independently, but in line with Al Qaeda's policies and aims."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;According to Ayman Al-Amir, Director of United Nations Radio and Television, terrorism does not stem from religious fanaticism. "It isn't something formed in mosques in Egypt or religious boarding schools in Pakistan, but in isolated prison cells and torture chambers and in places filled with fear due to authoritarian regimes," he said. Everything Ayman al-Amir said could become fuel for the next bomb-wherever that may be. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#660000;"&gt;Hanibal W.Y. Wijayanta (Jakarta), Zuhaid el-Qudsy (Solo)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21746840-113885411668890176?l=elqudsy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elqudsy.blogspot.com/feeds/113885411668890176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21746840&amp;postID=113885411668890176' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113885411668890176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113885411668890176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elqudsy.blogspot.com/2006/02/terror-without-borders.html' title='Terror Without Borders'/><author><name>zuhaid el-qudsy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05254508842480425101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21746840.post-113885291838969850</id><published>2006-02-01T19:57:00.000-08:00</published><updated>2006-02-01T20:01:58.396-08:00</updated><title type='text'>The Rise of Warlords</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;The blood of the four journalists killed [in a Nov. 19 ambush] on the road between Kabul and Jalalabad has dried up. But the street violence in post-Taliban Afghanistan is only just beginning. A new chapter of brutality has opened up.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The aforementioned journalists were killed at gunpoint when their convoy was stopped. Those unfortunate press members were Maria Grazia Cutuli from Italy, Julio Fuentes from Spain, Harry Burton from Australia, and Afghan-born photojournalist Azizullah Haidari. They were forced out of their seats, robbed, and shot to death; then their bodies were dragged by a truck.The murder of the four journalists is merely an example of the Afghan warlords’ capacity for brutality, a phenomenon that arose after the fall of the Taliban. Last week, World Food Program truck drivers were fearful when they tried to enter Kabul from Jalalabad. Those 60 trucks were allowed to continue the journey only if they were escorted by the Northern Alliance forces. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“They were armed with Kalashnikovs. Their faces were covered when they robbed me,” truck driver Waqif Khan Sinwari, who had just arrived in Kabul, said to the Associated Press. In the 1990s, before the Taliban era, Kabul-Jalalabad was a notorious route. Many drivers were scared to use it. Armed “squirrels,” as people called them, could easily jump on a vehicle from any direction. Now, this route has regained its previous reputation: It is controlled by the bandits of Jalalabad and surrounding areas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jalalabad is now controlled by Haj Abdul Qadir, the brother of Abdullah Haq, an anti-Taliban Pashtun leader who was executed by the Taliban. Qadir is among the elders of Jalalabad’s warlords. He negotiated with three local lords to divide the territory for security reasons. But his bargaining tactic was not a guarantee of security. Tens of armed men kept invading and robbing the region. They stole gasoline, oil, and wheat that was intended for refugees. The crime rate escalated exponentially. Bags of donated wheat were traded in the black market.&lt;br /&gt;Their acts were so ferocious that they became intolerable. “There were no robbers during the Taliban era,” starving Jalalabad inhabitant Abdullah Omari said. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ninety tons of food relief have been looted. Trucks have been hijacked. Computers and telecommunication devices that belonged to the food relief distribution organization have disappeared. Offices of several nonprofit organizations have been destroyed. Even residential windows have been stolen. Such occurences also happened in Kabul, the capital city. As many as 14,000 camping tents, which were kept at a UNHCR warehouse, disappeared along with 185 tons of wheat. “So many obstacles,” U.N. spokesperson Eric Salt said. The relief, apparently, was not received by the intended parties.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Observers say that the costly price of the fall of the Taliban is the rebirth of warlordism. Afghanistan can, indeed, return to its previous pre-Taliban standing. An old adage has been reborn: Move slowly with warlords, because they own every street corner. A warlord’s strength varies from one troop to another. Warlords run in families. “He is my cousin. So is he,” Sinjeddarah warlord Khademuddin said when a reporter asked the origin of his troops.Even on the Afghanistan-Pakistan border, particularly in the tribal area (where Pakistani law does not apply), warlordism has increased considerably. Abdul Halim Mahaly, Tempo’s correspondent in Pakistan, said that when he walked along the tribal area border last week, he saw many troops armed with automatic weapons. This is surprising, considering that the area was considered relatively safe. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Admittedly, the Taliban was relatively successful in decreasing the number of warlords. The potential danger lies in the growing tradition of vendetta against the Taliban. “In 20 minutes, the Taliban burned down 65 of our homes. They will pay now,” the Sinjedarrah warlord said.The growth of warlordism supports the thesis that there was never any central authority in Afghanistan to begin with. In Ghazni Province, a warlord named Ismail immediately gathered his troops together the instant he knew that the Taliban had fallen. His troops were armed in as little as two hours. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;On the surface, ethnic representatives [at the Bonn conference] might look harmonious. But the appearance is far from the truth. As soon as Kabul fell, for instance, Shiite Muslim militia from Hazarajat [who include the Hazaras, the second largest Afghan ethnic group] immediately showed up in the capital. They guarded areas in Kabul where the Shiites reside. Apparently, they were wary of the intentions of Burhanuddin Rabbani’s Tajik troops. These Shiite disciples were angry over Uzbek Gen. Abdul Rashid Dostum, who had defeated the Taliban in Kunduz. They suspected Dostum of ulterior motives. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Herat in northwestern Afghanistan used to be a relatively safe province. But the fall of the Taliban restored the power of renowned Herat Commander Gen. Ismail Khan. His reputation is far better than that of the barbaric Dostum. Ismail Khan built universities, opened jobs, and built asphalt roads for the residents. “We can have picnics, go to school, play music,” said Fazul Ragim, a Herat resident who is euphoric about the return of Ismail Khan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;But Khan is a Sunni, while the Herat majority is Shiite. Therefore, future conflict between his followers and the members of Hezb-i-Wahdat—a Shiite troop led by Karim Khalili—is not unlikely.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;It is apparent that the high-ranking commanders might not be as reliable as they might seem in contributing to the success of Loya Jirga [the traditional Afghan Grand Assembly]. Indeed, mysterious armed warlords cannot be trusted for its success. In Jalalabad, for instance, street bandits called themselves the troops of Hekmatyar. According to former Pakistani air force Colonel Mohammed Zaman Khan, most Uzbek and Hazara warlords probably do not support Loya Jirga. “Pashtuns will probably support it. This tribe will still receive the largest representation in the new post-Taliban government,” he said to Tempo.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;This will also encourage regional lords from the Pashtun ethnic group to return to their previously abandoned region. The followers of Arif Khan have claimed their piece of Kandahar. Yunus Khanis has claimed his region of Torkam [a border-post town] as well. Therefore, in order to realize Loya Jirga, the United States may have to bribe these regional lords, which, history has shown, works like a charm.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;In the 1979 war against the Soviets, for instance, Gen. Zia Ul Haq from Pakistan bribed the regional lords to fight against Russia. The previous Taliban administration was also known for being corrupt and under the influence of bribery of local troop leaders by Osama bin Laden.History repeats itself. Take Mohammed Musa Hotak and Ghulam Mohammed, the two brothers known as big warlords from Wardak, a province south of Kabul, as examples. Both of them have 1,000 armed followers, who have surrendered to Commander Abdullah of the Northern Alliance. Of course, they did not do so without reservation. As their wages, they demanded authority and a region. These two brothers are nothing more than chameleons. When the mujahideen fought against the Soviets, they became mujahideen. When the Taliban was in power, they became Taliban. Now that the Northern Alliance is in power, they have joined the Northern Alliance. “This is purely business,” Abdullah said.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Not surprisingly, many observers believe that these business relationships will not endure. “It is hard for groups affiliated with the Northern Alliance to defend togetherness,” Kurasat Istratijiya journal editor Jamil Mathar in Cairo said to Tempo. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;The other thing is the emerging controversy over whether or not international troops are required in Afghanistan. This problem will unquestionably trigger a conflict among regional lords. Shir Takana, a commander, demanded that his region be free of U.N. troops, even though the Northern Alliance has already agreed to them.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Another factor that should not be overlooked is opium. During the Taliban era, opium planting was forbidden. But Aghanistan has a long history as an opium producer. The rise of the Taliban was in some way a blessing in disguise for the Vienna-based U.N. body that has been fighting for a drug-free world. In the last five years, opium production and drug trafficking from Afghanistan have been greatly reduced.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;But the fall of the Taliban has given opium farmers opportunities to replant the “heavenly drug.” A farmer from Nangahar, Katib, had intended to plant his field with wheat, but has changed his mind, since the profit from opium is 15 times that of wheat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;It is no secret that opium fields are money fountains for high commanders and warlords as well. Harvest time is known to warlords as a time to fight for expanded opium territory. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Seno Joko Suyono and Zuhaid-El Qudsy, Tempo (independent), Jakarta, Indonesia, Dec. 2, 2001&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21746840-113885291838969850?l=elqudsy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elqudsy.blogspot.com/feeds/113885291838969850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21746840&amp;postID=113885291838969850' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113885291838969850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113885291838969850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elqudsy.blogspot.com/2006/02/rise-of-warlords_01.html' title='The Rise of Warlords'/><author><name>zuhaid el-qudsy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05254508842480425101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21746840.post-113870280745446417</id><published>2006-01-31T01:33:00.000-08:00</published><updated>2006-01-31T02:42:42.163-08:00</updated><title type='text'>Akibat Kesepakatan Mekah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Beberapa negara Islam berupaya menyeragamkan kurikulum sekolah agama, yang lain membebaskan. Radikalisme tampaknya reaksi terhadap kebijakan represif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7269/2202/1600/T235500A.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 139px; CURSOR: hand; HEIGHT: 195px" height="320" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7269/2202/320/T235500A.jpg" width="272" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ramainya serangan bom bunuh diri oleh kalangan militan Islam rupanya membuat 57 negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) cukup gerah. Setidaknya hal ini tercermin dalam konferensi tingkat tinggi OKI di Mekah, 7-8 Desember lalu. Salah satu dari 10 butir deklarasi yang dihasilkan menyebut perlunya meningkatkan persatuan umat melalui cara damai dan perbaikan sistem pendidikan bagi sekitar 1 miliar umat Islam di dunia. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;”Jadi, rencana perbaikan kurikulum di pesantren juga bagian dari kesepakatan OKI di Mekah itu,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla. Indonesia ternyata tak sendirian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada awal Desember lalu Presiden Pakistan, Pervez Musharraf, mengeluarkan beleid baru yang melarang madrasah memberikan pelajaran tentang jihad, militansi, sektarianisme, dan kebencian terhadap agama lain. Selain itu juga memberikan kewenangan pemerintah untuk memeriksa rekening organisasi, pesantren, dan madrasah, serta meminta laporan aktivitas tahunan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kesepakatan OKI itu kelihatannya memang lebih ampuh ketimbang tekanan Washington DC. Sebab, sejak peristiwa 9 Oktober 2001, Amerika Serikat dan negara-negara Barat sebenarnya telah mencoba menekan Pakistan agar segera mereformasi sekolah-sekolah agamanya, terutama dalam soal kurikulum dan sumber dana. Beberapa sekolah memang mereka curigai sebagai ”pabrik jihad” yang produktif. Lantas, pada 2002 Musharraf pun membuat peraturan baru. Tapi, karena partai dan kelompok Islam menentang keras, upaya ini gagal.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Namun tekanan internasional agar Pakistan mereformasi madrasahnya mencuat lagi setelah bom London, Juli lalu. Pemicunya adalah berita bahwa dua pelaku ternyata lulusan madrasah di Pakistan. Kasus ini dan kesepakatan OKI akhirnya meneguhkan langkah Musharraf merilis beleid itu. Peraturan ini menggantikan Undang-Undang Registrasi Organisasi Massa 1860. ”Paling lambat 31 Desember semua harus sudah mendaftarkan diri,” kata seorang pejabat Pakistan kepada The Indian Times. Peraturan yang kini diujicobakan di Wilayah Ibu Kota Islamabad itu, yang sanksinya dapat menyebabkan sekolah yang membangkang ditutup, akan diberlakukan di seluruh Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Aksi penutupan dan pengawasan kurikulum sekolah agama malah sudah terjadi di Malaysia saat Perdana Menteri Mahathir Mohamad berkuasa. Langkah awal yang diambil adalah menghentikan subsidi sekolah agama rendah (SAR). Pemerintah berdalih, keberadaan SAR tidak relevan karena tak mampu mencapai target kualitas yang diinginkan Malaysia, yakni melahirkan manusia yang mahir agama, informatika, dan teknologi secara seimbang. Sekolah-sekolah itu lalu gulung tikar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Negeri yang mengakui Islam sebagai satu-satunya agama resmi ini lalu mengadopsi mata pelajaran agama di SAR ke kurikulum sekolah pemerintah. Tapi, menurut Ishak, seorang warga di Kuala Lumpur, tindakan pemerintah menyeragamkan kurikulum pendidikan ini hanyalah untuk mengontrol pendidikan agama. ”SAR dan sekolah pondok memang kadang memasukkan nilai-nilai Islam yang membuat kami membenci Kerajaan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Gara-gara ”kajian keras” itu pula sekolah agama dan pondok sangat dikontrol oleh pemerintah. ”Kalau ada ceramah di pondok atau di masjid-masjid berbasis oposisi, pasti banyak aparat mengawasi dan ikut nguping,” kata Makcik Zahrah, 65 tahun, warga Cheras, Kuala Lumpur, kepada Tempo. Bahkan, menurut Ishak, teks khotbah Jumat di Malaysia pun seragam. ”Semua teks yang dibaca khatib datang dari Jabatan Kebajikan Agama Islam Malaysia,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penyeragaman kurikulum di sekolah umum maupun agama ini juga dinilai sebagai upaya penyatuan mazhab. Tradisi Melayu yang kental dengan mazhab Syafi’i menyebabkan mereka sukar menerima konsep mazhab lain seperti Wahabi. Pemikiran dan ajaran seperti larangan selamatan dan tawasul dinilai bisa membahayakan ikatan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Penertiban paham agama oleh pemerintah ini terasa lebih keras di Arab Saudi. Pada 1930 sempat ada dua kubu yang berbeda paham perjuangan di negeri ini, yakni kubu Ikhwanul Muslimin yang diimpor dari Mesir dan Wahabi yang didukung Abd-al Aziz Ibn Abd-al Rahman alias Ibn Saud. Tapi, sejak Ibnu Saud berkuasa, secara pelan tapi pasti kekuatan Ikhwan termarginalkan. Begitu juga kelompok minoritas seperti Syiah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Paham Wahabi yang rigid lalu dijadikan mazhab negara dan harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. Kurikulum sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan diseragamkan. Buku yang masuk ke Saudi pun sangat terseleksi. ”Tak semua buku bisa masuk. Hanya buku yang sesuai dengan paham Wahabi saja yang boleh,” kata Usamah Sarawan, seorang pengusaha di Riyadh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lembaga-lembaga yang mengajarkan mazhab dan pemikiran Islam diawasi ketat. Bahkan beberapa gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, Hamas, dan Tanzhimul Jihad dilarang eksis di Saudi, sementara buku-bukunya pun dibredel habis. Ide gerakan Islam seperti sistem negara khilafah dinilai sangat membahayakan Kerajaan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Meskipun penyeragaman paham sedemikian gencar, dari Kerajaan Arab Saudi pula justru muncul kelompok Salafiyah/Wahabiyah garis keras semacam Al-Qaidah, pimpinan Usamah bin Ladin. Bahkan semula banyak ulama, syekh, dan anggota keluarga Kerajaan Saudi yang ikut menyumbang duit untuk gerakan jihad Usamah melawan pemerintah pendudukan Uni Soviet di Afganistan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Keberhasilan menghengkangkan Negara Beruang merah dari Afganistan rupanya membuat Usamah bin Ladin ingin melanjutkannya dengan mengusir Amerika Serikat dari tanah airnya. ”Kebijakan Kerajaan yang mengekor Amerika memang menimbulkan ketidakpuasan di sebagian masyarakat Saudi,” kata Sarawan. Usamah bin Ladin, yang mendapat pendidikan Barat dan dikenal sebagai playboy semasa mudanya, menjadi salah satu pemimpin gerakan anti-Amerika ini. Ia diduga terpengaruh oleh gerakan Ikhwanul Muslimin yang berasal dari Mesir.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Di Mesir, pendidikan Islam diselenggarakan oleh lembaga formal dan informal. Lembaga formal misalnya perguruan Al-Azhar, sedangkan yang informal berupa jam’iyyah syar’iyyah. Biasanya lembaga informal berpusat di masjid-masjid dalam bentuk halaqoh pengajian. Sementara madrasah punya kurikulum tertentu, halaqoh sifatnya umum. Karena sifatnya informal, pesertanya mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Karena kebebasan politik di Mesir sangat terkungkung, kegiatan agama sering dijadikan ajang konsolidasi politik. Coba tengok peristiwa penembakan Presiden Anwar Sadat serta berbagai upaya pembunuhan Presiden Husni Mubarak. Kasus-kasus itu adalah imbas pertarungan politik antara pemerintah yang represif dan gerakan Ikhwanul Muslimin. Dari sana pula muncul gerakan Islam ultrakeras seperti Jamaah Jihad pimpinan Mohammad Abd Salam Faraj dan Jamaah Takfir wal Hijrah pimpinan Syukri Mushtofa. Keduanya jebolan Ikhwan saat dipimpin Sayyid Quthb.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sejak kasus 9/11, pandangan internasional pun tertuju ke Mesir. Meski para pelaku tak terkait dengan Ikhwanul Muslimin, Amerika Serikat menekan Mesir agar menjadi lebih demokratis demi melumpuhkan dukungan rakyat pada kelompok-kelompok radikal. Namun, dengan lihai, Presiden Husni Mubarak memanfaatkan dukungan Amerika Serikat dalam perang melawan terorisme untuk menekan lawan politiknya, sehingga menang dalam pemilu lalu, sebuah pemilihan presiden yang pertama kali dalam sejarah negeri itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bom yang meledak di Sharm el-Sheik enam bulan lalu, yang merusak bisnis wisata Mesir, memang membuat Mubarak lebih mudah menggunakan dalih memerangi terorisme dalam menerapkan berbagai kebijakan politik represifnya menjelang pemilu. Mubarak juga cukup cerdas untuk tidak menekan lembaga-lembaga Islam sebelum hari pencoblosan berlangsung, melainkan mengajak mereka turut dalam berbagai program memerangi terorisme. ”Justru lewat pendidikanlah ekstremisme bisa kita kikis,” kata Mousthafa Kamel Sayyed, peneliti di Ahram Political Science. Ia yakin Al-Azhar sebagai corong utama pendidikan di Mesir akan mampu meredakan gerakan terorisme lewat pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lembaga pendidikan memang bisa mempengaruhi siswa, tapi tentu bergantung pula pada materi yang diajarkan. Ayman al-Zawahiry, tangan kanan Usamah bin Ladin, misalnya, ”Tentu tidak mendapatkan materi ekstremisme dari sekolah saat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo,” kata Khayrat el-Shatir, 45 tahun, insinyur teknik komputer lulusan Ayn el-Syam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Walhasil, pemerintah, masyarakat, dan ulama Mesir pun mencoba melakukan seleksi terhadap penyebaran paham yang masuk ke negeri itu. Lembaga Hayah al-Misriyyah al-’Ammah lil Kitab (Komite Mesir untuk Pengembangan Buku), yang diketuai Sayyeda Suzan Mubarak, misalnya, baru saja merilis 280 buku baru. Lajnah pembahas buku membolehkan peredaran buku itu karena pembahasan hanya dilakukan jika ada buku yang meresahkan. Lajnah ini terdiri dari para intelektual yang kredibilitasnya telah diakui banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pemerintah Mesir, seperti Kerajaan Saudi dan negara anggota OKI lainnya, memang telah menyepakati Deklarasi Mekah yang menyebut persatuan umat tak boleh dilakukan melalui pertumpahan darah. Kesepuluh butir kesepakatan itu, yang pada intinya menyatakan Islam adalah agama damai, diharapkan menjadi semangat pembaruan kurikulum di sekolah agama di tiap negara anggota. Usul yang datang dari Malaysia itu pun kini menjalar ke Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hanibal W.Y. Wijayanta, Zuhaid el-Qudsy (Kairo) dan T.H. Salengke (Malaysia) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21746840-113870280745446417?l=elqudsy.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://elqudsy.blogspot.com/feeds/113870280745446417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21746840&amp;postID=113870280745446417' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113870280745446417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21746840/posts/default/113870280745446417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://elqudsy.blogspot.com/2006/01/akibat-kesepakatan-mekah.html' title='Akibat Kesepakatan Mekah'/><author><name>zuhaid el-qudsy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05254508842480425101</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
